‘Wang Laoji’, Teh Herbal Khas Cina Yang Sangat Menyehatkan

[转载]toko设计工作室│品牌设计作品(二)Jakarta – Teh adalah minuman herbal yang menyegarkan. Disajikan dingin atau hangat sama enaknya. Semakin berkembangnya teknologi membuat banyak varian rasa teh diciptakan. Namun teh herbal khas Cina punya manfaat yang dahsyat untuk kesehatan. Minum teh nerupakan kebiasaan kuno warga Guangdong, Guangxi Zhuang, Hongkong dan Makao. Karena iklimnya lembab dan terkadang panas, untuk menghilangkan dahaga saat panas atau ingin menghangatkan tubuh biasanya mereka meminum teh. Bahan utama teh herbal ini adalah chrysanthemum, honeysuckle, dan scutellaria. Selain itu juga dicampurkan dengan rimpang wangi, jamur putih dan umbi kecil. Warna teh yang merah kecokelatan mengeluarkan aroma harum saat diseduh. Teh ini dapat menjaga kelembaban tubuh dan efektif mengurangi batuk kering dan juga bibir pecah-pecah. Namun teh ini paling enak diminum selagi hangat. Setelah meminumnya keringat bisa langsung keluar bercucuran, tubuh juga akan terasa hangat. Teh ini juga cocok diminum dalam berbagai musim. Bagi Anda yang memiliki masalah dalam pencernaan sebaiknya jangan terlalu banyak mengkonsumsi karena akan membahayakan kelenjar limpa. Teh herbal ini juga tidak dianjurkan bagi wanita yang sedang menstruasi dan juga anak-anak. Di Guangdong dan Guangxi teh ini dijual ditoko-toko dalam kemasan paket ukuran kecil dan kalengan. Penjual akan meramu teh sendiri dan dijual dengan harga yang murah. Karena rasanya yang pahit, penjual juga menyediakan kulit jeruk kering untuk dicampurkan pada teh agar rasanya tidak terlalu pahit. Sejak tahun 1828 nama teh ini belum berubah yaitu Guangdong herbal tea Wang Laoji. Nama tersebut juga digunakan di Cina. Bahkan sejak bulan Juli 2004, Wang Laoji herbal tea juga dijual oleh salah satu restoran cepat saji.

obat produk fon pirus obat pil tablet pengobatan poxet 30mg dapoxetine pil desain produkSelain berinovasi dalam komposisi racikan minuman, kemasan, pada Mei mendatang, ia akan menambah varian rasa sereh lemon untuk menyasar segmentasi pembeli anak muda, yang mana sebelumnya hanya menyentuh kalangan ibu-ibu menengah ke atas dengan wawasan kesehatan. Harga jual per botolnya ke konsumen mulai dari Rp13-15 ribu, yang dikemas dalam botol ukuran 200 mililiter (ml) dan 330 ml. Saat ini, produk minuman ini dijual di beberapa rumah makan, toko oleh-oleh, spa, mini market lokal, dan toko organik baik offline, atau online. Total mitra dagang offlinenya ini ada sekitar 250 tersebar di wilayah Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang (Jabodeta) dan Surabaya. Ia pun memiliki harapan, agar “Nabatee” dapat menjadi minuman komersial merakyat seluruh nusantara. Masih ada beberapa kendala untuknya mengembangkan usaha. Bahan produksi yang ia maksud, lebih kepada materil kemasan, yaitu botol dan tutup botol yang industrinya masih sangat terbatas dan mayoritas hasil produksinya sudah terserap oleh perusahaan besar. Sementara itu, untuk bahan baku rempah, ia katakan sejauh ini masih aman disuplai dari Solo dan Bogor. Kendalanya, hanya menyesuaikan cuaca. Ia menyebutkan, pabrik botol kaca yang dibutuhkan hanya ada tiga dan terpusat di Jakarta semua. Kemudian, tutup botolnya juga demikian, bahkan hanya ada satu di Jakarta. Lalu, ia melanjutkan bahwa mahalnya produksi itu yang sedikit membuat UKM sulit berkembang. Hal inilah, menurutnya, harus menjadi perhatian pemerintah ke depan.

Jakarta – Mahkamah Agung (MA) mengabulkan tuntutan 20 tahun penjara bagi pengimpor biji ganja, Wu Zhekai. Warga Negara (WN) China yang juga pegawai toko obat herbal China itu mengimpor biji ganja seberat 20 kg. Kasus bermula saat petugas dari Polda Metro Jaya menggerebek Zhekai di pergudangan Primanata Pelabuhan Tanjung Priok pada 2 Maret 2013 dini hari. Dari pemeriksaan itu mengarah ke sebuah kontainer yang rencananya akan dialamatkan ke sebuah ruko di Pecenongan, Gambir. Saat dibuka, dalam kontainer tersebut terdapat kardus yang setelah dibuka berisi biji ganja seberat 20 kg. Berdasarkan dokumen resmi, kontainer APZ 3285101/20′ itu masuk ke pelabuhan pada 25 Januari 2013. Kepada petugas, pria berusia 33 tahun yang tinggal di Apartemen Mediterania Gajah Mada Tower B itu sengaja mengimpor untuk dijual kembali atau untuk dibuat obat-obatan. Atas hal itu, Zhekai pun harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Pada 27 November 2013 jaksa pada Kejaksaan Negeri Jakarta Utara (Kejari Jakut) mengajukan tuntutan 20 tahun penjara.

Namun pada 2 Januari 2014 Pengadilan Negeri Jakarta Utara (PN Jakut) hanya menjatuhkan hukuman 12 tahun penjara. Atas vonis itu, jaksa dan terdakwa sama-sama mengajukan banding dan Pengadilan Tinggi Jakarta mengkorting hukuman menjadi 7 tahun penjara pada 3 Maret 2014 lalu. Duduk sebagai ketua majelis Syamsul Bachri Bapa Tua dengan anggota Asli Ginting dan Syahrial Sidik. Alasan memperingan hukuman karena majelis hakim berkeyakinan Zhekai tidak sengaja dan kurang pengetahuan tentang perbedaan penggolongan untuk kegunaan dan peruntukan bahan atau barang di China dan di Indonesia. Zhekai mengimpor biji ganja untuk obat-obatan tradisional China. Hal ini dikuatkan dengan keterangan dari Dinas Administrasi Makanan dan Obat-obatan Kota Bo Zhou Provinsi An Hui dan Biro Manajemen Pengawasan Makanan dan Obat-obatan Kota Bo Zhou yang menerangkan cannabis semen tidak termasuk di dalam jenis bahan beracun. Bahkan Balai Pengendalian Obat dan Makanan Kota Bo Zhou menyatakan cannabis semen terdaftar sebagai obat tradisional China dengan kegunaan pelancar konstipasi, penambah darah dan kekurangan cairah tubuh yang disebabkan oleh kekurangan cairan di usus. Atas vonis itu, jaksa dan Zhekai sama-sama mengajukan kasasi. Putusan nomor 1475 K/PID.SUS/2014 itu diketok Rabu (15/10) kemarin dengan majelis Artidjo Alkostar, Surya Jaya dan Sri Murwahyuni.

Respond For " ‘Wang Laoji’, Teh Herbal Khas Cina Yang Sangat Menyehatkan "